Monday, November 16, 2015

Whalien 52



Dulu, waktu duduk di bangku SD, bisa dibilang aku punya banyak temen. Aku bisa beradaptasi dengan cepat sama temen-temen baru waktu itu karena notabenenya dulu aku adalah anak pindahan. Bisa dibilang juga dulu aku banci tampil. Semasa masih di Surabaya, seneng ikutan lomba mewarnai, lomba menyanyi. Bahkan waktu di Jember juga ikutan grup samroh yang jelas-jelas sering ada jadwal latihan dan jadwal manggung. Tahun terakhir di SD juga diisi sama kesibukan lomba menari.

Menyenangkan bukan?


Tapi, entah kenapa dunia langsung berbalik, berubah begitu aja begitu masuk ke bangku SMP. Tiara yang dulu punya banyak temen dan bisa beradaptasi dengan baik, justru merasa kesulitan mencari teman di bangku SMP. Tiara yang biasanya banci tampil semasa SD, justru lebih memilih buat ‘mengurung’ dirinya. Meskipun waktu SMP juga sempet ikutan ekstrakurikuler, tapi rasanya lebih banyak mencari excuses tiap kali mau latihan atau apalah. Sejak SMP, Tiara berubah.

Dan sejak itu, apalagi setelah mengenal istilah dunia fangirl, Tiara lebih suka menghabiskan waktunya sendiri. Sebenernya jadi seorang fangirl tidaklah buruk. Sewaktu itu bisa mengenal berbagai macam orang dari dunia maya, bahkan mengekplor minat ke dunia penulisan dan perphotoshop-an(?). Setidaknya saat itu Tiara tidak pernah merasa sendiri, selalu ada orang-orang yang tak terlihat yang selalu menemani. Herannya, di dunia maya seperti itu Tiara menjadi sosok yang gampang beradaptasi lagi.

Namun, dunia api kembali menyerang.

Entah ada api berjenis apa, setelah sekian lama menyukai kehidupan dunia maya, semuanya terasa… asing? Sampai sekarang memang masih menyukai bermain-main di dunia maya, tapi selalu memberi batasan antara yang nyata dan maya. Kembali menjadi sosok yang bahkan di dunia maya, meskipun hanya sekedar bercengkrama di group sosial media, terlalu takut untuk memulai.

Kadang aku juga suka mikir ‘Aku kenapa sih? Kok kayak gini terus? Ada something wrong sama diri ini’. Dan seperti yang pernah aku jelasin di postingan sebelumnya, aku berusaha untuk keluar dari tempurung, mencari kegiatan yang sebisa mungkin bisa aku jalani, mencari kegiatan yang pernah aku suka kerjakan sebelumnya, berusaha untuk mengikuti arus lingkungan yang ada. Tapi pada akhirnya aku jatuh lagi. Setiap kali seperti itu, entah mengapa rasanya masih terasa belum sanggup. Selalu berusaha untuk mempositifkan pikiran bahwa I can do it yang akhirnya berujung dengan diri ini semakin tertekan. Padahal kalau dilihat kayaknya enggak ada yang salah. Kegiatan yang aku coba jalani udah sesuai dengan keinginan aku, bahkan yang pernah aku sukai dahulu. Tapi, entahlah, di dalam sana rasanya ada yang salah. Dan pada akhirnya, aku memilih untuk mundur, kembali masuk ke dalam tempurung.

Even my parent admit it that their lil daughter always shielding herself from others. Tapi mereka selalu berusaha membesarkan hati, ngasih berbagai macam saran, bahwa aku harus keluar dari comfort-zone. Tapi aku selalu bilang, aku nyaman dengan kehidupanku di dalam. Melakukan segala halnya sendirian, berkreasi sendirian. Tapi ya... sometimes I feel so afraid, because life is hard.

Beberapa orang bilang, mungkin itu cuma perasaan kamu aja, mungkin kamu yang emang pemalas, mungkin kamu aja yang kurang terbuka, mungkin kamu dan mungkin kamu lainnya. Dan sebagai jawabannya, aku cuma bisa bilang, aku gatau. Kalau boleh jujur, ya, aku sering banget berdebat sama pikiran sendiri dengan pertanyaan kenapa aku dan kenapa aku lainnya. Tapi, di mana jawabannya? Aku harus mulai melangkah (lagi) dari mana?

I’m still trying to find my way, gimana caranya bisa menjadi sosok yang lebih baik dengan caraku sendiri. Maksudku… aku enggak perlukan jadi seperti orang lain. Kita sama-sama makan nasi, kalau dia bisa sukses dengan cara dia sendiri, kenapa aku enggak? Tapi tetep aja… sometimes I really envy with people who has the same problem like me, but they still have a strenght to go on, dan aku bertanya, kenapa aku tidak?

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang terus saja menghantui pikiran ini. Dan entah sampai kapan aku harus menunggu jawabannya.

Tahun depan, umurku genap 20. Kepala dua. Udah bukan anak kecil lagi, udah bukan remaja tanggung lagi.  Seseorang pernah bilang ke aku, dengan umur yang udah uhuk enggak lagi muda sudah seharusnya ada tujuan hidup, ada sesuatu yang menjadi pencapaian-pencapaian dalam menjadi hidup ini.

Tapi…







yang seperti apa?


(Lah muncul pertanyaan lagi kan –monolog)




Until now, I’m happy with my own life.



Stand up and lift your head up
Please don’t be shaken, this is only the beginning, widen your shoulders
The same you is inside if you – though it’s hard, don’t give up again
Stand up

Even if you struggle, the hearts of the skies may change
Don’t worry never mind, just wait for that day
(J-Min - Stand Up)

0 komentar: